RSS

Emas, Oeang Boejoet Saja Dari Dulu*

06 Apr

Umat manusia tidak mengenal alat tukar apapun selain uang perak dan uang emas, baik dalam bentuk hard currency maupun gold backup money. Lima mata uang hard currency Aerus Romawi, Solidus Romawi, Numisma atau Bezant dari Bizantium (Romawi Timur), Dinar – Dirham Islam dan Ducat Venesia dipergunakan secara internasional melintas batas peradaban mereka sendiri mulai dari satu abad sebelum Masehi hingga permulaan abad ini.

Sebelumnya, tujuh abad SM, uang emas digunakan dengan berbagai standar kandungan di Lydia secara terbatas. Alexander ‘The Great’ (356-323 SM) menyatukan Macedonia dengan mata uang perak tunggal. Julius Caesar mengembalikan mata uang Romawi menjadi uang emas setelah terjadi manipulasi ekonomi rakyat oleh pengusa sebelumnya. Alexander Hamilton (1755-1804) bendahara pertama negeri Amerika memperkenalkan standar emas untuk uang negaranya. Wajah Hamilton bisa dijumpai di uang US$10, sementara George Washington, bapak negara pertama Amerika yang mengangkat Hamilton hanya ‘nampang’ di US$1.

Napoleon menetapkan uang Prancis dengan standar emas, lalu ia jadi kaisar legendaris. Lenin mengendalikan hiperinflasi Rusia dengan standar emas. Juga Mao Tse-tung di Cina. Pada 1949, pemerintahan penguasa Amerika di Jepang menetapkan standar emas untuk negeri jajahanannya. Tiga tahun kemudian, Jepang memutuskan menjadi sekutu abadi negara yang telah membom atomnya, Amerika, hingga saat ini.

Sejarawan Islam, Ibn Muhammad Al Maqrizi (1364-1442) mengatakan : “Tidak pernah diperolah suatu berita dari umat manapun yang mengatakan bahwa mereka telah membuat mata uang dari selain emas dan perak, baik pada masa terdahulu maupun pada masa sekarang”. Apa yang dikatakan Maqrizi terbukti bahkan hingga 4 abad setelahnya sebelum Richard Nixon, pada 15 Agustus 1970 menciptakan petaka moneter dunia dengan keluarnya Smithsonian Agreement yang mempersilakan motif barbar Amerika berjalan mulus dengan uang dicetak suka-suka tanpa dikaitkan dengan cadangan emas.

Ketika muncul pertanyaan apakah dunia siap dengan kembalinya mata uang emas, praktek di banyak negara membuktikan satu per satu pembuktiannya. India, Venezuela dan Iran bersedia bertransaksi dengan alat bayar emas untuk komoditas dunia seperti minyak bumi dan cokelat. Di Afrika Selatan dan Malaysia, di Kesultanan Kelantan, Dinar dan Dirham telah jadi medium transaksi sehari-hari. Indonesia masih terus berlatih membiasakan diri.

Banyak negara, melalui bank sentral masing-masing, punya kepentingan untuk menyimpan kekayaan negaranya dalam bentuk emas. Apapun motifnya, baik untuk berjaga-jaga akan kehancuran uang kertas maupun pengendalian harga emas dunia semata, pada September 1999 European Central Bank (ECB) dan 11 bank sentral di Eropa, juga bank sentral Swiss, Inggris dan Swedia menyepakati Washington Agreement untuk tidak menjual 2000 ton emas cadangan mereka dalam 5 tahun. Pada 2004 kesepakatan ini diperbarui dengan 15 bank sentral utama dengan mengikat negara-negara minor lainnya dengan pelarangan penjualan emas lebih besar dalam 5 tahun yaitu 2.500 ton.

Sekali lagi ini menguatkan apa yang dikatakan Imam Al-Gazali bahwa “Allah telah menciptakan emas dan perak sebagai hakim yang adil, cerminan harga-harga dan penyimpan kekayaan yang hakiki”

* ditulis oleh Endy J. Kurniawan

Referensi :
– The Golden Constant, Roy W. Jastram & Jill Leyland, EE Publishing, 1977
– Gold, The Once & Future Money, Nathan Lewis, Agora, 2007
– Wikipedia

 

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2012 in Dinar Emas

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: