RSS

Membeli Masa Depan Dengan Harga Hari Ini?*


Kalimat ini sering terdengar sekarang. Bersliweran. Saya suka kalimat ini karena singkat, mengena dan menceritakan banyak hal. Sejujurnya saya tak tahu siapa yang mempopulerkan. Bagaimana memahaminya dengan mudah? Begini : harga-harga secara ‘alamiah’ naik dari waktu ke waktu. Penyebabnya tentu inflasi. Di masa datang, kita harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama saat ini, bahkan dengan uang yang rencananya kita tabung dan (kita harapkan) berkembang.

Sulit membayangkan apa yang terjadi dengan daya beli harta kita 15 dan 20 tahun mendatang. Kita menyimpan dan menyelamatkan harta dengan cara terlalu biasa untuk bisa mengejar kenaikan harga di masa datang.

Seberapa mengerti kita akan hitungan kenaikan biaya hidup per bulan ketika memasuki masa pensiun nanti? Bahkan, seberapa peduli? Para karyawan menyisihkan 3% s.d 15% dari gajinya per bulan untuk persiapan memasuki masa purna bhakti tanpa bisa membayangkan apakah dana pensiunnya mampu menopang hidupnya per bulan nanti. Harga-harga ketika itu melambung tinggi, sementara badan makin renta dan tak seproduktif saat muda. Beranikah kita membayangkan bahwa biaya hidup Rp 2 juta per orang saat ini dalam sebulan, dalam 20 tahun lagi menjadi +/- sekitar Rp 13 juta per bulan? Itu biaya hidup satu orang dalam keluarga.

Penyedia pengelolaan dana pensiun datang menjelaskan dengan angka-angka besar sebagai janji return. Kita terperangah karena saking besarnya, tanpa mau mengkaji bahwa angka tersebut menjadi begitu tak berarti nanti. Sebagaimana, yang sering saya contohkan dalam seminar, 10 tahun lalu kita menilai besar angka Rp 250 utk satu permen ketika dulu harga sebutir permen adalah Rp 25. Sekarang, kita sudah biasa keluarkan Rp 1.000 dan mendapatkan 4 butir. Artinya harga permen naik 10 kali lipat dalam 10 tahun. Ini mungkin bukan masalah asal pendapatan kita, misalkan gaji, ‘disesuaikan’ tiap tahun. Tapi jadi masalah untuk tabungan kita, yang sudah kita serahkan ke lembaga keuangan dan dijanjikan berkembang, padahal memberikan hasil yang memiskinkan.

Dua belas tahun lalu seorang karyawan dipotong gaji Rp 250.000 untuk dikelola dana pensiun. Saat ini angka simpanannya menjadi Rp 57.000.000 atau ‘berkembang’ sebesar 4,9% setiap tahunnya. Lihat angka inflasi rata-rata 5-10% per tahun, sebetulnya dana itu jelas ‘tak mampu membeli’ kebutuhan masa depan si karyawan. Tabungan dana pensiun tak mampu memproteksi simpanannya karena tumbuh lebih kecil daripada naiknya harga-harga. Itu belum ditambah 20 tahun lagi kedepan ketika karyawan benar-benar pensiun.

Membeli masa depan dengan harga sekarang adalah menabung dengan angka hitung/ nominal saat ini dan membiarkan tabungan itu ‘bekerja’ untuk membeli kebutuhan kita di masa datang. Kita menabung untuk pendidikan anak masuk kuliah 10 tahun lagi, ketika dibutuhkan nanti, tabungan kita cukup ‘membelinya’, bahkan lebih.

Membeli masa depan dengan harga saat ini adalah menabung 10 Dinar emas (42,5 emas batangan) setahun lalu untuk berangkat umroh tahun ini, dan mendapati bahwa biaya umroh ternyata cukup dibayar dengan 8 Dinar emas saja.

Membeli masa depan dengan harga sekarang adalah menabung emas mulai 12 tahun lalu dengan angka tetap Rp 250.000 per bulan untuk persiapan dana pensiun dan mendapati nilai simpanan mencapai Rp 80,4 juta saat ini. Atau naik 124% dalam 12 tahun atau sama dengan naik 10,3% per tahun.

Membeli masa depan dengan harga sekarang adalah menabung di harta hakiki, yaitu emas dan perak, yang kenaikannya menumbangkan kenaikan harga-harga yang lain. Hingga ketika diperlukan nanti, tabungan hakiki itu akan selalu mencukupi. Insya Allah.

* ditulis oleh Endy J. Kurniawan

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2012 in Perencanaan Keuangan

 

Tags: , , ,

Emas, Oeang Boejoet Saja Dari Dulu*


Umat manusia tidak mengenal alat tukar apapun selain uang perak dan uang emas, baik dalam bentuk hard currency maupun gold backup money. Lima mata uang hard currency Aerus Romawi, Solidus Romawi, Numisma atau Bezant dari Bizantium (Romawi Timur), Dinar – Dirham Islam dan Ducat Venesia dipergunakan secara internasional melintas batas peradaban mereka sendiri mulai dari satu abad sebelum Masehi hingga permulaan abad ini.

Sebelumnya, tujuh abad SM, uang emas digunakan dengan berbagai standar kandungan di Lydia secara terbatas. Alexander ‘The Great’ (356-323 SM) menyatukan Macedonia dengan mata uang perak tunggal. Julius Caesar mengembalikan mata uang Romawi menjadi uang emas setelah terjadi manipulasi ekonomi rakyat oleh pengusa sebelumnya. Alexander Hamilton (1755-1804) bendahara pertama negeri Amerika memperkenalkan standar emas untuk uang negaranya. Wajah Hamilton bisa dijumpai di uang US$10, sementara George Washington, bapak negara pertama Amerika yang mengangkat Hamilton hanya ‘nampang’ di US$1.

Napoleon menetapkan uang Prancis dengan standar emas, lalu ia jadi kaisar legendaris. Lenin mengendalikan hiperinflasi Rusia dengan standar emas. Juga Mao Tse-tung di Cina. Pada 1949, pemerintahan penguasa Amerika di Jepang menetapkan standar emas untuk negeri jajahanannya. Tiga tahun kemudian, Jepang memutuskan menjadi sekutu abadi negara yang telah membom atomnya, Amerika, hingga saat ini.

Sejarawan Islam, Ibn Muhammad Al Maqrizi (1364-1442) mengatakan : “Tidak pernah diperolah suatu berita dari umat manapun yang mengatakan bahwa mereka telah membuat mata uang dari selain emas dan perak, baik pada masa terdahulu maupun pada masa sekarang”. Apa yang dikatakan Maqrizi terbukti bahkan hingga 4 abad setelahnya sebelum Richard Nixon, pada 15 Agustus 1970 menciptakan petaka moneter dunia dengan keluarnya Smithsonian Agreement yang mempersilakan motif barbar Amerika berjalan mulus dengan uang dicetak suka-suka tanpa dikaitkan dengan cadangan emas.

Ketika muncul pertanyaan apakah dunia siap dengan kembalinya mata uang emas, praktek di banyak negara membuktikan satu per satu pembuktiannya. India, Venezuela dan Iran bersedia bertransaksi dengan alat bayar emas untuk komoditas dunia seperti minyak bumi dan cokelat. Di Afrika Selatan dan Malaysia, di Kesultanan Kelantan, Dinar dan Dirham telah jadi medium transaksi sehari-hari. Indonesia masih terus berlatih membiasakan diri.

Banyak negara, melalui bank sentral masing-masing, punya kepentingan untuk menyimpan kekayaan negaranya dalam bentuk emas. Apapun motifnya, baik untuk berjaga-jaga akan kehancuran uang kertas maupun pengendalian harga emas dunia semata, pada September 1999 European Central Bank (ECB) dan 11 bank sentral di Eropa, juga bank sentral Swiss, Inggris dan Swedia menyepakati Washington Agreement untuk tidak menjual 2000 ton emas cadangan mereka dalam 5 tahun. Pada 2004 kesepakatan ini diperbarui dengan 15 bank sentral utama dengan mengikat negara-negara minor lainnya dengan pelarangan penjualan emas lebih besar dalam 5 tahun yaitu 2.500 ton.

Sekali lagi ini menguatkan apa yang dikatakan Imam Al-Gazali bahwa “Allah telah menciptakan emas dan perak sebagai hakim yang adil, cerminan harga-harga dan penyimpan kekayaan yang hakiki”

* ditulis oleh Endy J. Kurniawan

Referensi :
- The Golden Constant, Roy W. Jastram & Jill Leyland, EE Publishing, 1977
- Gold, The Once & Future Money, Nathan Lewis, Agora, 2007
- Wikipedia

 

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2012 in Dinar Emas

 

Tags: , ,

Image

Dinar Peruri : Babak Baru Dalam Penyebaran Dinar*


Alhamdulillah perusahaan-perusahaan  milik pemerintah tersebut kini keduanya siap merespon kebutuhan Dinar yang ada di masyarakat. Bila selama ini Dinar yang kami sebar luaskan ke masyarakat adalah Dinar yang diproduksi oleh Logam Mulia, tentu ini akan kami lanjutkan karena LM telah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan Dinar masyarakat secara maksimal. Pada saat yang bersamaan peningkatan kebutuhan Dinar di masyarakat yang tinggi – yang beberapa bulan lalu bahkan sempat harus menunggu 1 – 2 bulan, insyaallah akan segera dapat terpenuhi seluruhnya karena adanya tambahan supply Dinar dari Peruri ini. Kini kami merasa lebih comfortable karena ada dua perusahaan milik pemerintah  yang siap mem-backup kebutuhan Dinar yang disebar luaskan melalui situs ini dan agen-agen-nya.

Dinar Peruri yang design dan sample produk-nya sudah kami terima dapat dilihat pada gambar dibawah. Dibandingkan dengan Dinar LM, Dinar Peruri kelihatan lebih kecil karena faktor diameter. Dinar LM berdiameter 23 mm, sedangkan Dinar Peruri berdiameter 20 mm. Untuk mengimbangi diameter yang lebih kecil ini, Dinar Peruri lebih tebal dari Dinar LM. Namun keduanya memiliki berat yang sama 4.25 gram dan kadar karat yang sama pula yaitu 22 karat atau 91.7%. Dari sisi ciri khas design yang mudah dikenali, bila Dinar LM menggunakan gambar timbul berupa Ka’bah di Masjidil Haram – Peruri menggunakan gambar timbul masjid Istiqlal – Jakarta.

Dinar Peruri

Dinar Peruri

Insyaallah Dinar Peruri ini akan available dalam satu sampai dua bulan kedepan karena saat ini sudah dalam finalisasi process pencetakannya. Bila saatnya nanti Dinar Peruri sudah benar-benar diproduksi, kami akan memberlakukannya secara sama dengan Dinar LM. Selain harga jual dan harga beli-nya yang sama; masyarakat bisa menukarkan Dinar LM yang dipegangnya dengan Dinar Peruri dan juga sebaliknya dari Dinar Peruri ke Dinar LM. Bila stok keduanya ada, klien-klien GeraiDinar dan jaringan agennya boleh memilih salah satu dari keduanya atau kombinasi dari keduanya – tergantung preferensi masing-masing.

Sertifikat Dinar Peruri

Sertifikat Dinar Peruri

Kehadiran Dinar Peruri ini adalah hasil kerjasama Peruri dengan Gerai Dinar. Peruri menyediakan infrastruktur percetakan uangnya yang sangat canggih dengan teamnya yang sangat berpengalaman, sedangkan Gerai Dinar menyediakan bahan baku dan pasarnya. Kerjasama ini juga  menandai babak baru dalam penyebaran Dinar ke masyarakat. Pertama masyarakat bisa memiliki pilihan dari Dinar-Dinar yang diproduksi oleh dua perusahaan negara yang masing-masing sangat berkompetent dibidangnya tersebut diatas, dan yang kedua ketersediaan supply Dinar insyaAllah akan menjadi semakin terjamin.

Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanNya bagi kita semua untuk beramal yang diridloiNya.

* ditulis oleh Muhaimin Iqbal, Jumat 6 Mei 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 24, 2012 in Dinar Emas

 

Kelebihan dan Kelemahan Dinar dan Emas Batangan


Banyak investor emas pemula yang ‘bingung’ memilih antara dinar dan emas batangan. Jika ditanyakan ke ahlinya alias pakar-pakar emas, mereka akan menjawab keduanya baik dan bagus.  Kalau memang berbeda, mengapa harus ada nama dinar dan emas batangan? Mari kita simak perbandingannya dibawah ini:

DINAR
Kelebihan Dinar:
1. Memiliki sifat unit account; mudah dijumlahkan dan dibagi. Kalau kita punya 100 Dinar hari ini mau kita pakai 5 Dinar maka tinggal dilepas yang 5 Dinar dan disimpan yang 95 Dinar.
2. Sangat liquid (mudah diuangkan) untuk diperjualbelikan karena kemudahan dibagi dan dijumlahkan seperti ditulis pada poin (1) di atas.
3. Memiliki nilai da’wah tinggi karena sosialisasi Dinar akan mendorong sosialisasi syariat Islam itu sendiri. Nishab zakat misalnya, ditentukan dengan Dinar atau Dirham – umat akan sulit menghitung zakat dengan benar apabila tidak mengetahui Dinar dan Dirham ini.
4. Nilai jual kembali tinggi, mengikuti perkembangan harga emas internasional; hanya dengan dikurangkan biaya administrasi dan penjualan sekitar 4% dari harga pasar. Jadi kalau sepanjang tahun lalu Dinar mengalami kenaikan 31% maka setelah dipotong biaya 4% tersebut hasil investasi kita masih sekitar 27%.
5. Mudah diperjualbelikan sesama pengguna karena tidak ada kendala model dan ukuran.

Kelemahan Dinar:
1. Di Indonesia masih dianggap perhiasan, penjual terkena PPN 10% (Sesuai KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83/KMK.03/2002 bisa diperhitungkan secara netto antara pajak keluaran dan pajak masukan toko emas maka yang harus dibayar ‘toko emas’ penjual Dinar adalah 2%).
2. Ongkos cetak masih relatif tinggi yaitu berkisar antara 3%-5% dari nilai barang tergantung dari jumlah pesanan.

EMAS BATANGAN
Kelebihan Emas Batangan:
1. Tidak terkena PPN
2. Apabila yang kita beli dalam unit 1kg tidak terkena biaya cetak.
3. Nilai jual kembali tinggi.

Kelemahan Emas Batangan:
1. Tidak fleksibel; kalau kita simpan emas 1kg, kemudian kita butuhkan 10gr untuk keperluan tunai tidak mudah untuk dipotong. Artinya harus dijual dahulu yang 1kg, digunakan sebagian tunai, sebagian dibelikan lagi dalam unit yang lebih kecil maka akan ada kehilangan biaya administrasi beberpa kali.
2. Kalau yang kta simpan unit kecil seperti unit 1gr; 5gr; 10gr, maka biaya cetaknya akan cukup tinggi.
3. Tidak mudah diperjualbelikan sesama pengguna karena adanya kendala ukuran. Pengguna yang butuh dan memiliki dana senilai 100gr, tidak akan tertarik membeli dari pengguna lain yang mempunyai kumpulan 10gr-an. Pengguna yang akan menjual 100gr tidak bisa menjual ke dua orang yang masing-masing butuh 50gr, dst.

Sumber: Think Dinar

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Identifikasi Emas Batangan Asli


Ada beberapa cara mengidentifikasi emas asli. Emas yang dimaksud disini adalah emas murni batangan produksi PT Logam Mulia Antam, yang lebih dikenal dengan “Emas LM”. Saya sarikan dari kultwit pak @endykurniawan ahad 18 Desember 2011. Berikut intisarinya:

1. Cek #emasasli dari identifikasi sertifikat, identifikasi fisik, dan yang paling jauh adalah melakukan pengecekan.
2. Kalau #emas keluaran LM-Antam atau #emas lokal pabrikan, separuh pengecekan sudah dilakukan, karena sertifikat itu awal pembuktian
3. Sekarang mulai langkah paling sederhana, cek sertifikat. Ada beberapa ciri
4. Yang pertama, terawang dengan lampu terang. Ada huruf C saling terkait di sertifikat, itu logo produsennya
5. Pakai UV Lamp, 3 tanda terlihat. Block warna ungu di tulisan logo LM dan bercak-bercak ungu
6. Tentu yang umum di sertifikat ada logo KAN, LBMA dan no seri. No seri harus cocok dengan yang ada di body LM. Ini juga bagian dari identifikasi #emasasli
7. Part 1 identifikasi sertifikat #emasasli done. Lanjut..
8. Gosok kuat pake jari tangan. Kalau hitam permukaannya itu bukan #emasasli
9. Gosok pelan sisi pipih #emas ke kertas, kalau hitam kertasnya itu bukan #emasasli
10. Lalu timang-timang. Berat jenis #emas tinggi. Kecil gitu barangnya berat. Kalau besi perlu 5x lebih besar ukurannya
11. Meski warna tidak tunjukkan kadar (warna emas ditentukan logam campurannya), lihat warna emasnya, dia berkilau
12. Done identifikasi #emasasli dari fisiknya. Bagian terakhir, kalau niat nih dan perlu yakin banget, lakukan pengukuran dengan alat
13. Cara paling gampang, di body tertulis 100gr, di sertifikat tertulis 100gr, ditimbang cuma 95gr, berarti itu dicampur logam lain
14. Technically, untuk emas batang mustahil memalsukan tanpa merubah bentuk. ‘Mengisinya’ dengan logam lain akan membuatnya cembung atau cekung
15. Itu sebabnya makin tipis dan berbentuk standar #emas makin sulit dipalsukan. Kalaupun disepuh, pakai teknik awal tadi, gosok dengan jari
16. Untuk cek kadar #emas gunakan gabungan timbangan digital dengan gelas ukur berisi air
17. Untuk teknik ukur dengan timbangan + gelas ukur, agak panjang, bisa dilihat di m-dinar.com , disitu juga ada calculator onlinenya
18. Cara lain adalah uji lab, digital tester yang biasanya dimiliki institusi besar. Pegadaian atau bank syariah nggak pakai, cukup timbangan + gelas ukur
19. Sudah semua ya

Semoga bermanfaat ^.^

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2012 in Emas Batangan

 

Tags: ,

Arisan Dinar Emas


Arisan Dinar pada dasarnya sama dengan arisan uang kertas pada umumnya. Setoran-kocok-dapet. Dua hal yang berbeda disini adalah jumlah setorannya yang naik turun mengikuti harga(tren) dinar dan ‘dapet’ nya berupa dinar emas
.
Simulasi 1:
Ada 10orangg sepakat arisan dinar tiap tanggal 21, dikocok pada rate 06.30. Jadi hari ini 21 maret 06:30 harga dinar Rp 2,191,593. Soo, jumlah setoran per orang adalah Rp 219,160.

Lalu muncul pertanyaan: Syar’i-kah arisan ini? Secara jumlah setoran yang tidak sama tiap bulannya mengesankan ‘kedzholiman’ terhadap peserta yang dapet terakhir. Ini jelas berbeda dengan arisan uang biasa yang dianggap ‘adil’ karena jumlah setoran sama per bulan dan hasil akhirnya sama. Kita simulasikan lagi,

Simulasi 2:
Semua peserta arisan akan setor dengan jumlah yang sama dan ‘dapet’ hasil yang sama. Coba di simulasi hitungan arisan 10 bulan ke depan.
Bln maret -» 2,191,593 -» 219,160/org
Bln april -» 2,210,000 -» 221,000/org
Blm mei -» 2,225,000 -» 222,500/org
Bln juni -» 2,200,000 -» 220,000/org
Bln juli -» 2,300,000 -» 230,000/org
Bln agust -» 2,275,000 -» 227,500/org
Bln sept -» 2,280,000 -» 228,000/org
Bln okt -» 2,310,000 -» 231,000/org
Bln nov -» 2,320,000 -» 232,000/org
Bln des -» 2,315,000 -» 231,500/org
Jumlahkan setoran per orang tiap bulan, maka total setoran arisan tiap orang selama 10bulan adalah Rp 2,262,660 untuk mendapatkan 1 keping Dinar. Harga diatas itu cuma simulasi ya, bukan prediksi.

See? Dibandingkan dengan arisan uang biasa, justru arisan dinar jauh lebih adil, karena hasilnya berupa emas yang nilainya stabil. Sedangkan uang kertas adalah nilainya semu. Peserta 1-10 sama-sama mendapatkan (misalnya) 2 juta rupiah. Apakah nilainya(baca: daya beli) sama antara peserta pertama hingga terakhir? Tentu saja beda. Dua juta bulan ini tentu berbeda daya belinya dengan 10 bulan kemudian.

Berminat? Special offer buat admin Arisan Dinar adalah rebate 1% langsung.

Call 08988229001
Pin 224d4cce

Terima kasih,

Niar Emas

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2012 in Dinar Emas

 

Tags: , , ,

Sejarah Dinar dan Dirham


Berikut kultwit yang pernah saya posting di Twitter:

1. Banyak yang mengira Dinar Dirham berawal mula dari Islam.
2. Menurut Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al Amwal fi Daulatil Khilafah, Dinar dan Dirham telah dikenal oleh orang Arab sebelum datangnya Islam.
3. Berawal dari aktifitas perdagangan yang mereka lakukan dengan negara2 di sekitarnya.
4. Ketika pulang dari Syam, mereka membawa Dinar #Emas Romawi. Dari Irak membawa Dirham Perak Persia. Kadang-kadang Dirham Himyar dari Yaman.
5. Jadi saat itu banyak mata uang asing yang masuk negeri Hijaz berupa Dinar #Emas Romawi dan Dirham Perak Persia.
6. Tetapi orang2 Arab saat itu tidak menggunakan Dinar Dirham tersebut menurut nominalnya, melainkan menurut beratnya.
7. Sebab mata uang yang ada hanya dianggap sebagai kepingan #Emas atau #Perak.
8. Mereka tidak menganggapnya sebagai mata uang yang dicetak karena bentuk dan timbangan yang tidak sama.
9. Maka untuk mencegah terjadinya penipuan, mereka lebih suka menggunakan standar timbangan khusus yang mereka punya yaitu mitsqal, daniq, auqiyah, dll
10. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengakui(men-taqrir) berbagai mu’amalah yang menggunakan Dinar Romawi dan Dirham Persia.
11. Beliau juga mengakui standar timbangan yang berlaku di kalangan kaum Quraisy untuk menimbang berat Dinar dan Dirham.
12. Rasulullah bersabda, “Timbangan berat(wazan) adalah timbangan penduduk Makkah & takaran(mikyal) adalah takaran penduduk Madinah.” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’I)
13. Kaum Muslimin terus menggunakan Dinar Romawi & Dirham Persia dalam bentuk cap dan gambar aslinya sepanjang hidup Rasulullah SAW…
14. …dan dilanjutkan oleh masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq dan awal kekhalifahan Umar bin Khaththab.
15. Pada tahun 20 H -yaitu thn ke-8 kekhilafahan Umar- Khalifah Umar mencetak uang Dirham berdasarkan pola Dirham Persia.
16. Berat, gambar, maupun tulisan Bahlawi-nya(huruf Persia-nya) tetap ada, hanya ditambah dengan lafazh yang ditulis dengan huruf Arab gaya Kufi.
17. Seperti lafazh ‘بسم الله’ yang terletak pada tepi lingkaran. Tradisi ini dilestarikan kaum Muslimin pada pencetakan uang untuk abad2 kemudian.
18. Pada tahun 75 H(695M) -ada yg mengatakan 76 H- Khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak Dirham khusus yang bercorak Islam dengan lafazh2 Islam bergaya Kufi
19. Pola Dirham Persia tdk dipakai lagi. Dua thn kemudian pd 77 H(697 M), Abdul Malik bin Marwan mencetak Dinar khusus bercorak Islam.
20. Selain itu, ia menginstruksikan pula untuk menghapus gambar2 manusia dan hewan pada Dinar dan Dirham untuk diganti dengan lafazh2 Islam.
21. Lafazh2 Islam yg tercetak itu misalnya kalimat “Allahu Ahad” dan “Allahu Baqa”. Ada yang pada satu sisinya diberi tulisan “Laa ilaaha illaLlah”,
22. , sedang pada sisi sebaliknya terdapat tanggal pencetakan serta nama Khalifah atau Wali yang memerintah pada saat pencetakan mata uang.
23. Pencetakan yg belakangan memperkenalkan kalimat syahadat, sholawat Nabi SAW, satu ayat AlQuran, lafazh yg menggambarkan kebesaran ALLAH SWT.
24. Sejak itulah kaum Muslimin mempunyai Dinar dan Dirham Islam sebagai mata uang resmi mereka dan tidak menggunakan mata uang lainnya.
25. Fakta ini berlanjut sepanjang sejarah Islam hgg bbrp saat menjelang Perang Dunia I ktka dunia mhentikan pggunaan emas & perak sbg mata uang
26. Setelah PD I berakhir, emas & perak digunakan kembali sebagai mata uang tetapi hanya bersifat parsial.
27. Ketika Negara Islam (khilafah) di Turki hancur pada 1924, Dinar dan Dirham Islam tidak lagi menjadi mata uang kaum Muslimin.
28. Namun demikian emas dan perak tetap digunakan meskipun makin berkurang hingga pd 15 Agustus 1971 penggunaannya dihentikan total.
29. Tatkala Richard Nixon -Presiden Amerika saat itu- mengumumkan secara resmi penghentian sistem Bretton Woods(penetapan bhw $ ditopang dg emas)

* Disarikan dari tulisan “Seputar Dinar Dirham” oleh Ir. Sigit Purnawan Jati(SEM Institute) dari buku DINAR EMAS Solusi Krisis Moneter.

 
1 Comment

Posted by on February 23, 2012 in Dinar Emas

 

Tags: , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.